Monday, May 23, 2011

23 Mei 2011

Bosen dengan game online yg biasanya aku maenin tiap malem.
browsing2 ngalor ngidul , cari sesuatu yg baru, cari ispirasi baru, cari pengetahuan baru,
aku emang tipe orang yg suka autodidak.
Page halaman browsing ku terhenti ketika ada 1 renungan, menceritakan seorang nenek usia 60'an yg terus melawan dunia,
ya, nenek itu kerja dari pagi sampai larut malam. Jakarta kota sadis, Nenek ini tetap melawan sadis nya kota itu. salut, diusia yg seharusnya dia nikmatin masa tua, tp ini 180 derajat berbeda dari biasanya.
aku juga BANGGA. karena nenek ku sama seperti nenek ini. seketika otak ku flash back ke masa2 aku SMP dan awal2 SMA kemarin.
otak ku Flash back ke sosok tubuh renta yg biasa kupanggil mbah elek (mbah jelek)
begitu nenek ku menyebut diri beliau pada cucu'ny, ciri khas, karena aku tidak menemukan 1 orang pun cucu yg menyebut nenek mereka mbah elek .
Otak ku flash back sewaktu mbah mampir ke rumah, 2 keranjang dagangan jeruk nipus seberat 5kg yang dibawa oleh kedua siku tangannya.
itulah pekerjaan mbah . keliling menjajakan jeruk nipis dari desa ke desa, panas, hujan, sakit sekalipun terkadang mbah tetap berjualan dari kampung ke kampung.
mungkin sejenak melepas lelah, mbah mampir ke rumah, tidak seperti biasa, waktu itu aku bantu bapak finishing rumah baru keluarga ku, ada beberapa triplek yg harus dipaku,
meski kecil, aku mencoba membantu walaupun akhirnya toh pekerjaan ku tetep dibaleni oleh bapak.
"wah, cucu mbah elek wis iso maku'i triplek. pinter le" begitu ucap mbah, aku baru tersadar kalo mbah ada si rumahku, kebiasan ku juga, jika mbah datang ke rumah, biasanya aku minta 1 atau 2 jeruk nipis dagangan mbah, untuk aku jadikan minuman jeruk.
belum terpikir olehku, mbah dengan perjuangannya melawan kerasnya hidup, dagang, gak peduli cuaca yg tak bersahabat. aku kangen mbah,
otak ku juga flash back saat aku berkunjung ke rumah mbah saat lebaran, dipikiran ku saat itu ingin beli mainan, sperti anak2 lainnya dihari lebaran, dan jika aku ke rumah mbah aku PASTI mendapat tambahan uang untuk beli mainan itu.
Aku BANGGA, mbah ku sayang dengan cucu cucu nya.
.
tahun itu mbah sakit keras. sepulang sekolah aku langsung ke rumah mbah , karena keluargaku berada di rumah mbah. 1 hari. 2 hari. 3 hari. dan seterusnya. nggak ada perubahan yg baik pada fisik mbah, aku berada halaman rumah mbah, ibu datang. ibu nangis. ibu cuma bilang "mbah udah gak ada lagi"
.
aku kangen mbah. harusnya mbah nikmatin masa-masa tua, bukan tetap berjuang melawan kerasnya hidup. aku sayang mbah.

aku kangen mbah. aku seorang lak-laki, tp aku BANGGA, saat menulis ini aku gak mampu nahan air mata.
aku BANGGA punya Nenek seperti mbah , aku BANGGA jadi cucu mbah .
doa'in aku yg masih disini. doa'in biar aku bisa sperti mbah.